
Faktor pendukung yang menguatkan posisi Bali hanyalah kebudayaan dan alamnya yang sangat mempesona serta masyarakatnya yang sangat ramah dan terkenal jujur sehingga tidak salah kalau “dulu” pulau Bali dijuluki “The paradise island”, “The island with thousand temple”, “God island”, dan lain sebagainya. Namun, masihkan Bali layak mendapat julukan seperti itu?
Masyarakat Bali yang terkenal religius dan taat terhadap tradisi tentu dapat tergoyahkan dengan perkembangan globalisasi. Pengaruh dari lokal dan domestik memberikan dampak buruk bagi susila masyarakat Bali. Bangunan - bangunan pura nan megah sudah disulap menjadi tempat pariwisata yang mengesampingkan “taksu”/roh dari pura itu sendiri. Kehikmatan umat dalam bersembahyang harus dikesampingkan demi kepentingan para turis asing. Upacara keagamaan semakin marak dan semakin marak, tetapi sangat jauh dari makna yang sebenarnya. Ceramah dan propaganda agama semakin marak menyerang Bali. Sayangnya hal tersebut tidak menghasilkan output yang positif bagi moralitas dan keajegan Bali jati mula.
Guru bidang keagamaan SMAN 3 Denpasar Dra. Ni Luh Suryati menyatakan, banyaknya perubahan ini diakibatkan buruknya pribadi dari masing – masing masyarakat Bali , yang mudah terpengaruh terhadap keadaan disekelilingnya. “Kemerosotan susila masyarakat Bali juga diakibatkan perubahan budaya khas Bali yang mengarah ke Barat”, imbuhnya.
Awal Mula Perkembangan Pariwisata
Seusai Perang Dunia II dan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, di antara sejumlah kecil wisatawan yang berkunjung ke Bali ada kekhawatiran sehubungan dengan munculnya semangat nasionalis di kalangan penguasa baru Indonesia:
“seiring dengan waktu, jiwa Hindu yang lahir di bali sepuluh abad yang lalu semakn hari semakin sulit bertahan, dan mulai kehilangan cirri khasnya. Maka bergegaslah menikmatinya dari dekat sebelum pengaruh Indonesia modern menghancurkannya”(Durtain 1956 : 21).
Begitu orde baru muncul, upaya gigih pemerintah Indonesia untuk mengembangkan pariwisata Bali juga ditafsirkan sebagai gaung terakhir kebudayaan Bali. Kerena itulah sebuah majalah pariwisata yang terbit tahun 1970-an dapat disimak peringatan berikut:
“Bali masih pada titik nol pencemaran pariwisata. Meskipun demikian, perlu adanya peringatan karena sesungguhnya momok pariwisata sudah muncul dan siapuntuk menghancurkan keajaiban sebuah kebudayaan termurni yang pernah ada di dunia”(Milau 1974:106).
“Tahun 1970 perkembangan pariwisata di Bali memasuki tahap perkembangan yang pesat. Wisatawan mengalami penigkatan yang cukup tinggi dikhawatirkan saat itu akan merubah sikap susila masyarakat Bali”, tutur Suryati. Masyarakat Bali yang terpengaruh budaya asing ditakutkan dapat meninggalkan budaya lama. Tindakan kriminal mulai memasuki pribadi masyarakat Bali. Sejak saat itu, style masyarakat Bali mulai berubah. Dimana para wanita mulai menggunakan pakaian atasan dan sebagainya. Selain itu perubahan susila masyarakat Bali mulai tampak sejak saat itu. Walaupun tak sebesar sekarang namun , pada saat itu, masyarakat Bali telah mengenal obat – obatan terlarang serta menjadi pelacur.
Sejak saat itu pula, masyarakat Bali mulai memanfaatkan tempat – tempat sakral di Bali untuk tempat wisata. Suryati mengungkapkan sesungguhnya, tempat suci di Bali tidak boleh digunakan sebagai tempat wisata dengan tujuan tetap menjaga keskralannya namun demi ekonomi hal tersebut dilanggar.
Seks dalam Pariwisata
Suryati menjelaskan bahwa saat ini kafe remang-remang menjamur bak musim hujan. Kriminalitas, narkoba, mabuk-mabukan, kenakalan remaja dan sex bebas bahkan sudah merambah ke desa-desa. Bahkan istilah ‘ngecharge HP ke kafe” merupakan istilah yang tidak asing lagi bagi sebagian besar pemuda Bali. “Itulah sebuah istilah yang digunakan untuk mencari wanita penghibur di kafe-kafe yang memang sangat marak saat ini”, katanya
Bahkan yang lebih menghebohkan beberapa waktu yang lalu pulau Bali digegerkan dengan ditemukannya mayat seorang wanita jepang dalam keadaan bugil di daerah kuta. Diduga kuat mayat wanita tersebut merupakan korban pemerkosaan dan pembunuhan. Artinya, saat ini masyarakat Bali sudah tergerus dalam efek negatif pariwisata, mengalami kegamangan, kebingungan dan kehilangan pondasi dasar dalam menghadapi perubahan yang demikian cepatnya.
Bagaimana mengembalikan Jiwa Bali seperti sedia kala?
Jati diri atau sifat khas orang Bali adalah sifat-sifat dasar, norma-norma, kepercayaan dan tuntunan hidup mendasar yang seharusnya melekat pada setiap orang Bali. “Kita tidak boleh lupa bawasannya budaya Bali dibangun dengan spirit Hindu” , ungkap Gandhy , salah seorang siswi kelas XI SMAN 3 Denpasar. Gandhy menyatakan jika spirit ini hilang, pulau Bali dan orang-orang Bali tidak ubahnya seperti perangkat keras yang tidak memiliki software yang tepat. Ingatlah , Bali yang tanpa Hindu, Bali yang tanpa filsafat, tempat suci, masyarakat desa pakraman, yang hilang keramahtamahannya adalah Bali yang telah lenyap. “Adalah kewajiban kita semua sebagai masyarakat Bali untuk mengembalikan Bali menjadi lebih baik” imbuhnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar